Hujan deras menimpa kota yang telah lama mati. Bangunan-bangunan runtuh dibalut lumut, jalanan retak penuh mayat yang membusuk dan hening… hingga lengkingan mengerikan para “berjalan mati” memecah sunyi dari kejauhan.

Di bawah reruntuhan gedung supermarket tua yang hampir roboh, Lynx bernafas terengah. Darah mengucur dari pahanya—gigitan. Terlambat menangkis. Ia menyeret tubuhnya, satu tangan menggenggam senapan, tangan lain memegangi luka yang sudah mulai membiru.

Sekelompok orang berdiri tak jauh darinya, siluet mereka samar diterangi api unggun kecil yang menyala redup. Tapi satu wajah ia kenal lebih dari yang lain—wajah yang pernah ia peluk tiap malam, yang pernah ia lindungi tanpa pertanyaan, yang kini memeluk lelaki lain tepat di hadapannya.

Cindy.

Rambut panjangnya kini terikat kasar, pipinya penuh noda darah musuh, tapi matanya tak lagi menatapnya dengan hangat. Tidak ada sisa ragu di sana. Tidak ada rasa kasihan. Hanya… dingin dan keinginan menguasai.

“Dia sudah terluka,” gumam lelaki besar di sebelah Cindy, si pemimpin kelompok yang dulunya hampir dibunuh Lynx karena merampok logistik. “Kita ambil semua logistik dan senjata dari tasnya. Dia takkan selamat.”

“Tunggu...” Suara Lynx serak, tubuhnya gemetar bukan hanya karena rasa sakit, tapi karena hatinya remuk.

Cindy menoleh. Ia berjalan pelan, lututnya menyentuh tanah di hadapan Lynx. “Kau terlalu baik, Lynx. Terlalu banyak mengorbankan dirimu… dan untuk apa? Untuk dunia yang sudah mati?”
Dia menyentuh pipinya, lalu mengelus luka yang menganga di bahunya. “Kau selalu menyelamatkanku, bahkan saat aku tak pantas diselamatkan.”

Lynx menatapnya dengan mata yang memerah. “Cindy… aku... masih mempercayaimu.”

Cindy tersenyum, lalu berbisik, “Sayangnya, aku tidak mempercayaimu lagi.”

Tanpa ragu, Cindy bangkit dan berbalik ke lelaki di sebelahnya. Mereka saling menatap, lalu berciuman di depan Lynx—panjang dan penuh gairah, seperti tak ada luka yang berdarah beberapa meter dari mereka.

Itu lebih menyakitkan dari gigitan zombie.

“Ambil semua yang dia punya,” ucap Cindy sesudahnya, wajahnya dingin seperti es. “Dan pastikan dia tidak bangun lagi.”

Dua pria mendekat, salah satunya mengangkat palu baja. Lynx mencoba meraih senapan, namun pelatuknya kosong. Ia telah menembakkan peluru terakhirnya lima menit lalu. Ia hanya bisa menatap langit malam yang kelam, membayangkan semua pengorbanannya, semua darah yang ia tumpahkan untuk menjaga mereka.

Dan Cindy. Yang ia cintai.

**Duarghh!**

Palu baja menghantam kepala Lynx. Dunia bergetar, lalu memudar.

Tapi saat cahaya terakhir memudar, bukan kegelapan yang menyambutnya.

*

Lynx tersentak bangun.

Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya berkeringat dingin. Ia duduk di tempat tidur usang—di dalam kamar kecil yang masih utuh. Jam di dinding berdetak pelan. Tidak ada zombie. Tidak ada reruntuhan.

Ia meraih ponsel di samping ranjang. Masih menyala. Tanggal... **6 Juni**.

Matanya membelalak. Ini—ini tak mungkin...

Hari kiamat terjadi **13 Juni**. Satu minggu dari sekarang.

“Aku kembali…” bisiknya.

Ia bangkit perlahan, menatap tangannya yang masih utuh. Tak ada luka. Tak ada bekas gigitan. Tapi semua kenangan—semua rasa sakit dan pengkhianatan—masih segar di pikirannya, seolah baru terjadi kemarin. Karena memang baru terjadi—di kehidupan yang lain.

Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia hendak meraih air minum dari meja. Tapi saat tangannya bergerak… gelas itu tiba-tiba **menghilang**.

Lynx terdiam. Matanya menyipit.

Apa itu barusan?

Ia mencoba hal yang sama dengan bantal di tempat tidur. Ia memfokuskan pikirannya… dan *wussh*, bantal itu lenyap di udara, seperti tersedot ke ruang kosong.

Dalam benaknya, ia bisa merasakan keberadaan tempat gelap—hampa, luas tak terhingga—dan benda-benda itu kini berada di sana.

“Ruang… penyimpanan?” gumamnya pelan.

Matanya mulai berkilat, bukan karena takjub… tapi karena sebuah rencana mulai terpatri dalam pikirannya. Dengan kekuatan ini, dia bisa menyimpan makanan, senjata, bahkan orang… dan yang lebih penting: menyembunyikan rahasia.

Lynx menatap langit biru pagi dari balik jendela kecil. Dunia masih damai. Belum ada jeritan. Belum ada kiamat.

Tapi ia tahu, waktu terus berdetak.

**“Tujuh hari. Tujuh hari sebelum dunia jatuh. Tapi kali ini… aku yang akan berburu. Aku yang akan membakar jalan mereka.”**

**“Dan Cindy—kau takkan pernah menyentuh hartaku lagi.”**
